Sabtu, 12 Mei 2012

FILSAFAT PENDIDIKAN KONSTRUKTIVISME


BAB  I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam sebuah percakapannya dengan Bringuier, Piaget berucap, “Pendidikan, bagi sebagian besar orang, berarti berusaha membimbing anak untuk menyerupai orang dewasa, (sebaliknya) bagi saya, pendidikan berarti menghasilkan pencipta, sekalipun tidak banyak, sekalipun suatu pencipta dibatasi oleh perbandingan dengan pencipta yang lain.” Ungkapan ini ditulisnya dalam “Twelfth Conversation” menjadi salah satu frame corak pemikirannya di jalan konstruktivisme.
Dewasa ini, konstruktivisme merupakan salah satu filsafat pengetahuan yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan, tak terkecuali kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang segera diterapkan juga berakar pada konsep filsafat ini. Dalam konsep filsafat konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat di-transfer begitu saja dari seorang guru kepada murid. Pengetahuan yang didapat murid bukanlah hasil cekokan guru, melainkan bangunan (konstruksi) murid itu sendiri. karena pengetahuan bukanlah suatu perumusan yang diciptakan orang yang sedang mempelajarinya. Pendeknya, model pendidikannya, model pendidikannya tidak bergaya bank (the banking concept of education) salah satu model pendidikan yang dikemukakan oleh Paulo Freire dalam Pedagogy of the oppressed.

            Dalam konsepsi konstruktivis, seorang murid tidak dianggap sebagai sebuah kaset kosong yang bisa diisi rekaman apa saja sesuai keinginan. Para konstruktivis beranggapan bahwa seorang anak sudah memiliki “pengetahuan awal” yang kemudian diasimilasikan dan  diakomodasikan dengan pengetahuan yang didapatnya. Konsepsi mi merupakan antipoda dan gagasan Lock, Hume dan kaum behavioris yang menganggap bahwa manusia terlahir dalam kondisi netral dan kosong molompong atau tabula rasa.

B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi permasalahan dalam makalah ini yaitu :
1.   Jelaskan Pandangan Para Pakar tentang efektivitas pembelajaran dari filsafat konstruktivisme.
2.  Apa Hubungan Filsafat Kontruktvisme dalam Psikologi kognitif, Pygotsky, serta  Relasi dan Anti-relasi.
3.   Bagaimana Penerapan Kontruktivisme dalam KBK

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui Pandangan Para Pakar tentang efektivitas pembelajaran dari filsafat konstruktivisme.
2.  Mengetahui Hubungan Filsafat Kontruktvisme dalam Psikologi kognitif, Pygotsky, serta  Relasi dan Anti-relasi.
3.   Mengetahui Penerapan Kontruktivisme dalam KBK
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pandangan Para Pakar tentang efektivitas pembelajaran dari filsafat konstruktivisme.
Paul Suparno dalam Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, mengemukakan secara ringkas prinsip-prinsip yang sering diambil dari konstruktivisme, antara lain: Pertama, pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif. Kedua, tekanan proses belajar terletak pada siswa. Ketiga, mengajar adalah membantu siswa belajar. Keempat, tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada akhir. Kelima, kurikulum menekankan partisipasi siswa dan keenam, guru adalah fasilitator.
Bagi para konstruktivis proses belajar lebih merujuk pada pengembangan pola pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Guru konstruktivis tidak akan pernah mengklaim “inilah satu-satunya yang benar,” karena guru konstruktivis tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang yang maha tahu dan murid dianggap batok copong (istilah Sunda yang berarti orang bodoh yang bisa dikelabui).
Paul Suparno ketika mengutip Pernyataan Von Glasersfeld menjelaskan, pada tahun 1710, Vico dalam De Antiquissirna Italorum Sapientia, mengungkapkan filsafatnya dengan berkata, “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dan ciptaan”. Dia menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti ‘mengetahui bagaimana membuat sesuatu”. Begitulah Giambatissta Vico, seorang epistemolog dan Italia yang telah menelurkan gagasan konstruktivisme. Baginya pengetahuan lebih menekankan pada struktur konsep yang dibentuk. Lain halnya dengan para empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan itu harus menunjuk kepada kenyataan luar.
Menurut banyak pengamat, bahwa Vico tidak membuktikan teorinya (Paul Suparno: 2001). Sekian lama gagasannya tidak dikenal orang dan seakan menghilang. Adalah Jean Piaget (1896- 1980) seorang psikolog yang mencoba untuk meneruskan estafet gagasan konstruktivisme terlebih dalam proses belajar. Gagasan Piaget ini lebih tepat tersebar dan berkembang melebihi gagasan Vico.

2.  Hubungan Filsafat Kontruktvisme dalam Psikologi kognitif, Pygotsky, serta  Relasi dan Anti-relasi
a). Psikologi Kognitif
Apabila kita mempelajari biografi Piaget, maka bisa digeneralisir bahwa  teori konstruktivismenya muncul dalam pergulatan aliran filsafat pengetahuan  rasionalisme, empirisme, dan romantisme abad 17 dan 18. Sudah barang tentu pada Piaget ada kesamaan dengan para filosuf kala itu. Misalnya Saja antara  Piaget dengan Kant, keduanya menempatkan konsep obyek dalam struktur pemikiran. Tidak hanya Kan tentunya, teori pengetahuan Paget juga mirip dengan teori Baldwin yang menjelaskan hubungan genetika dengan pengetahuan.  Pygotsky dan Bandura juga ada kemiripan dengan Piaget. Dalam teori mereka ada kesan bahwa mereka sama dalam melihat pentingnya segi sosial dalam pembentukan pengetahuan, tetapi berbeda dalam penekanan dan konseptualisasinya.
Gagasan konstruktivisme Piaget tertuang dalam teori perkembangan kognitif dan dalam epistimologi genetiknya. Menurut Piaget, untuk perkembangan kognitif seseorang diperlukan adanya proses asimilasi dan akomodasi yang seimbang yang disebut equilibrium. Yang dimaksud asimilasi di sini adalah mengintegrasikan sesuatu yang baru kedalam konsep gagasan yang sudah dimiliki, sedangkan upaya mengubah konsep yang ada dengan rangsangan yang dihadapi disebut akomodasi. Bagi Piaget mekanisme ini harus mengidentifikasi mekanisme yang melahirkan pengetahuan baru.
Berbicara mengenai teori belajar psikologi kognitif, sebenarnya Piaget bukanlah sebagai orang pertama. Kalau kita mencoba untuk meruntutnya, maka akan didapat nama Mex Wertheimer (1880- 1943) sebagai peletak dasar psikologi Gestalt yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Mengapa demikian? karena psikologi kognitif sendiri mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar Gestalt. Nama selanjutnya adalah Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan. Kemudian dilanjutkan oleh Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang insight pada simpase. Sambungan berikutnya diikuti oleh Kurt Lewin (1892- 1947) yang mengembangkan teori belajar cognitive field dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial.
Teori perkembangan kognitif Piaget scud in mulai berkembang antara tahun 1920-1930. Berawal dan keyakinannya bahwa ada tahap perkembangan kognitif yang berbeda dan anak sampai menjadi dewasa, maka ia melakukan penelitian dalam bidang perkembangan kognitif anak. Untuk itu ia melakukan penelitian bersama istrinya terhadap ketiga anaknya yang usianya berbeda. Pada tahun-tahun berikutnya penelitian Piaget terus dikembangkan dan atas anjuran Einstein pada tahun 1940 Piaget meneliti pengertian anak tentang waktu, kecepatan dan gerak.
 Sedangkan inti dan epistemology Piaget, sebagaimana yang ditulis Lesli Smith adalah penalaran dengan menggunakan norma intelektual (suatu bentuk hafalan AIUEO). Penalaran bersifat otonom, yaitu pemikirannya sendiri Penalaran meliputi kebutuhan (entailment), yakni hubungan yang diperlukan tentang  “apa yang seharusnya”. Penalaran bersifat  intersubjektif dan sejalan dengan aksioma Ekclidaen yang sama ditambah pada yang tidak sama-sama dengan tidak sama, yaitu merupakan paradigma “dasar bersama” dan pelbagai pemikir. Penalaran bersifat objektif, karena di justifikasi sebagai jawaban yang benar dalam argumen valid (yang mempertahankan kebenaran) Penalaran memiliki derajat (tingkat) Universalitas, baik yang terbuka ataupun tidak, yang diubah dalam pelbagai kondisi kausal.
Paul Suparno ketika mengutip pernyataan Gruber dan Voneche, 0989 dalam Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget, mengungkapkan bahwa tidak ada pendidikan ala Piaget. Pasalnya Piaget tidak secara khusus mengarahkan pengertiannya untuk pendidikan dan pengajaran. Meskipun demikian teorinya jelas berkaitan dan relevan dengan dunia pendidikan. Tahap-tahap pemikir!iI Piaget sudah sejak lama mempengaruhi bagaimana para pendidik menyusub kurikulum, memilih metode pengajaran, dan juga memilih bahan bagi pendidikan anak, terlebih pendidikan di sekolah,
 Teori yang digagas oleh Piaget juga banyak mengundang tanggapan dai berbagai kalangan. Hal ini menandakan bahwa teori yang diusung Piaget banyak pengaruhnya. Salah satu diantaranya ada yang mengkritik bahwa teori Piaget terlalu personal karena lebih menekankan keaktifan pribadi seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuarinya. Memang benar, Piaget tidak pernah melakukan penelitian secara terperinci dan tersusun mengenai pentingnya sosialitas dalam pembentukan pengetahuan. Mesldpun demikian, sebenarnya dalam beberapa tulisanmya, ia tidak melupakan unsur sosial.
b) Konstruktivisme Pygotsky
Dalam tubuh konstruktivisme, sebenarnya sudah ada pengklasifikasian tersendiri. Apabila kita mencoba untuk menelusurinya maka akan didapat dua kelompok besar konstruktivisme sebagai berikut: Gagasan konstruktivisme psikologis yang lebih personal dimotori oleh Lev Senyonovich Vygotsky, yang menurutnya bahwa perkembangan pengetahuan terjadi karena ada interaksi antara pribadi seseorang dengan lingkungan sekitar. Baginya tidak mungkin seseorang memisahkan unsur-unsur sosio-kultural dan apa yang diketahui. Alexander Ardivichi dalam salah satu karyanya menyebutkan bahwa Vygotsky menyebut teorinya bersifat historis-kultural dengan menekankan bahwa faktor-faktor yang menentukan aktivitas kehidupan individu dihasilkan oleh perkembangan historis kebudayaan. Dua konsep Vygotsky yang sangat penting dalam psikologi perkembangan dipelbagai bidang, terutama pendidikan, yaitu menyebutnya dengan Zone of Proximal Depelopment (ZDP) dan “Pembicaraan Batin” Inner Speech. Menurut konsep ZPD, perkembangan psikologi bergantung pada kekuatan sosial luar sekaligus pada kekuatan batin
c). Relasi dan Anti-relasi
Bagi Stayer, konstruktivisme merupakan sintesis pandangan rasionalis dan empiris. Konstruktivisme menunjukkan interaksi antara subyek dan obyck, antara realitas yang eksternal dan internal. Walaupun ada sebagian kalangan yang beranggapan bahwa konstruktivisme cenderung mengarah ke empirisnie dan relativisme. Cenderung ke empirisme karena semua konsep harus berdasarkan kenyataan luar (seperti yang digagas oleh Aristoteles, Berkeley, Hunie, Bacon, Iloobes dan lock) dan cenderung ke relativisme karena menekankan konstruksi atau abstraksi.
Bagi kaum idealis pikiran dan konstruksinya adalah satu-satunya realitas, sedangkan konstruktivisme menyatakan bahwa kita hanya dapat mengetahui apa yang dekonstruksi oleh pikiran kita. Berbeda juga dengan objektivisme yang memandang bahwa realitas didapat melalui langkah yang sistematis menuju kenyataan dunia.
Di lain pihak, konstruktivisme berbeda juga dengan behaviorisme dan maturasionisme. Bila behaviorisme menekankan keterampilan sebagai suatu tujuan pengajaran, konstruktivisme lebih menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam. Bila maturasionisme lebih menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai langkah-langkah perkembangan kedewasaan, konstruktivisme justru lebih menekankan pengetahuan sebagai konstruksi aktif

3.  Penerapan Kontruktivisme dalam KBK
Konstruktivisme dan KBK
Apabila mengamati konsepnya, KBK merupakan tangan panjang dan gagasan filsafat construktivisme. Agaknya wacana pendidikan (baca: kurikulum) di Indonesia Quantum akan disetir ke arah sana. Walau harapan acap kali tidak sesuai dengan kenyataan, dan konsep yang sering disalahartikan seperti yang pernah dialami oleh Piaget dengan teori perkembangan kognitifnya.
 KBK dengan landasan konstruktivismenya diharapkan akan memberikan paradigma baru terhadap sistem pendidikan secara makro dan pembelajaran secara mikro (seperti Portofolio). Bagi negara berkembang seperti Indonesia, ketertinggalan dibidang pendidikan harus dikejar untuk standar internasional. Ibaratnya, kecepatan harus dilipatgandakan (Gas- pol, Rem-pol) agar mampu mengejar ketertinggalan.
 Menjadi negara maju memang menggiurkan. Di Indonesia keinginan itu sudah ada, tujuan mulia ini jangan sampai hanya menjadi mimpi indah. Walau bukan satu-satunya jurus yang jitu, dengan kurikulum 2004 ini kita inginkan perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan kita.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Dalam tubuh konstruktivisme, sebenarnya sudah ada pengklasifikasian tersendiri. Apabila kita mencoba untuk menelusurinya maka akan didapat dua kelompok besar konstruktivisme sebagai berikut: Gagasan konstruktivisme psikologis yang lebih personal dimotori oleh Lev Senyonovich Vygotsky, yang menurutnya bahwa perkembangan pengetahuan terjadi karena ada interaksi antara pribadi seseorang dengan lingkungan sekitar.Alexander Ardivichi dalam salah satu karyanya menyebutkan bahwa Vygotsky menyebut teorinya bersifat historis-kultural dengan menekankan bahwa faktor-faktor yang menentukan aktivitas kehidupan individu dihasilkan oleh perkembangan historis kebudayaan.
2.      Dua konsep Vygotsky yang sangat penting dalam psikologi perkembangan dipelbagai bidang, terutama pendidikan, yaitu menyebutnya dengan Zone of Proximal Depelopment (ZDP) dan “Pembicaraan Batin” Inner Speech. Menurut konsep ZPD, perkembangan psikologi bergantung pada kekuatan sosial luar sekaligus pada kekuatan batin
3.      KBK dengan landasan konstruktivismenya diharapkan akan memberikan paradigma baru terhadap sistem pendidikan secara makro dan pembelajaran secara mikro (seperti Portofolio). Bagi negara berkembang seperti Indonesia, ketertinggalan dibidang pendidikan harus dikejar untuk standar internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin Salam Drs.  2004 : ” Pengantar Pedagogik (Dasar – Dasar Ilmu Mendidik)” Rineka Cipta : Jakarta

Redja Mudjaharjo.  2001 : ” Pengantar Pendidikan”. PT. Radja Grafindo Persada : Jakarta

Asep Cuwantoro. 2009 : ” Acep Cuwantoro Zone’s Blogspot. Com”. Http//www. Google.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar